Beranda > Sejarah Islam, Studi Islam > Gagasan Pembaruan Pemikiran Islam

Gagasan Pembaruan Pemikiran Islam

Periode sekitar dua abad setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. pada hakekatnya merupakan periode formatif. Ajaran-ajaran Islam mengalami kristalisasi dan bentuk yang komprehensif dan universal. Jadi masalah pembaruan pemikiran Islam muncul setelah periode formatif, terutama setelah Islam sebagai agama dan sekaligus berhadapan dengan berbagai budaya lokal, berbagai paham non Islam dan aneka bentuk pemerintahan yang ada, baik di dunia Timur sendiri maupun di dunia Barat.

Periode formatif pasca Nabi bukanlah suatu periode sejarah yang tanpa konflik. Justru pada periode inilah telah muncul konflik tajam antara berbagai aliran dalam masyarakat Islam pada waktu itu mengenai masalah ideologi, politik, sosial, moral dan spritual. Ortodoksi Islam yang kemudian melembaga dan mengkristal sekitar dua abad setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. adalah hasil pertarungan bermacam-macam gagasan dan pemikiran di kalangan umat Islam yang meliputi hampir segala bidang kehidupan.

Lahirnya gerakan-gerakan pembaruan atau reformasi dalam Islam mulai muncul secara mencolok terutama pada Dinasti Umayyah ketika pemerintahan Islam mengambil bentuk kerajaan. Penindasan politik para penguasa ketika itu dirasakan oleh masyarakat terlalu opresif sehingga melahirkan berbagai aksi dan protes sosial politik. Salah satu reaksi terhadap ketidakadilan sosial dan degradasi moral pada waktu itu adalah gerakan sufi yang mencoba menangkap kedalaman dan spritualitas Islam, bukan Islam yang sudah dikebiri menjadi sejumlah aturan-aturan hukum dan doktrin-doktrin teologi yang kering dan juga bukan Islam yang telah berubah menjadi sistem politik yang memberikan justifikasi  bagi elitisme, nepotisme dan eksploitasi. Pada  perkembangan selanjutnya terdapat penafsiran terhadap Alquran dan hadis yang cenderung menguntungkan penguasa ketika itu.

Dalam perkembagannya, gerakan sufi yang pada awalnya menekankan pentingnya purifikasi spritual manusia dan dimensi moral serta asketik, kemudian berubah menjadi metode komunikasi dengan Tuhan yang sangat bersifat esoterik. Sufisme telah menjadi antitesa terhadap teologi Islam yang bersifat rasional. Pada akhirnya, tidak dapat dihindarkan kecenderungan dalam sufisme yang mengarah makin jauh dari pergulatan sosial dalam masyarakat. Disamping itu merajalelanya tahyul, bid’ah dan khurafat, fabrikasi dan supertisi di kalangan umat telah membuat sebagian umat buta terhadap ajaran-ajaran Islam orisinal, yakni ajaran yang terkandung dalam Alquran dan sunnah.

Dalam situasi umat Islam seperti itu, muncullah keharusan pembaruan untuk mengangkat umat kepada ajaran Islam yang sesungguhnya. Pada peralihan abad ke tiga belas ke abad empat belas, tampil seorang pembaru Islam yang sering dianggap sebagai bapak tajdid atau reformasi yaitu Ibnu Taimiyyah. Reformis Islam itu melakukan kritik tajam tidak saja kepada sufisme dan filosof yang mendewakan rasionalisme, tetapi juga kepada teologi Asy’ariah yang cenderung pasrah terhadap kehendak Tuhan. Kritik-kritik Ibnu Taimiyyah selalu dibarengi dengan seruan agar umat Islam kembali kepada al-Qur’an dan sunnah dan memahami kembali kedua sumber Islam itu dengan landasan ijtihad.

Fazlur Rahman, seorang pemikir Islam terkemuka abad XX menilai bahwa gerakan-gerakan reformasi Islam yang muncul pada abad XVII, XVIII dan XX, pada dasarnya menunjukkan karakteristik yang sama dengan gagasan Ibnu Taimiyyah, yakni gerakan-gerakan pembaruan itu mengedepankan rekonstruksi sosio-moral masyarakat Islam sekaligus mengoreksi sufisme yang terlalu menekankan individu dan mengabaikan masyarakat.

Pintu ijtihad yang seolah-olah ditutup pada waktu itu didobrak oleh Ibnu Taimiyyah sambil menandaskan bahwa rekonstruksi Islam hanya dapat dilakukan dengan menghidupkan semangat ijtihad. Bapak tajdid pemikiran Islam itu berpendapat bahwa manusia harus dapat memahami kehendak Allah sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an dan sunnah. Hal yang menarik dari rangkaian pemikiran ibnu Taimiyyah adalah benang merah keadilan sosial dan penekanan tugas-tugas manusia sebagai makhluk sosial yang mengemban kewajiban kolektif untuk menciptakan kewajiban bersama. Gagasan pembaruan Ibnu Taimiyyah jelas menembus dan melampaui Islam sejarah (historical Islam) dalam arti Islam sebagaimana dipraktekkan oleh umat Islam yang telah mengalami distorsi, deviasi dan bahkan degenerasi.

Pada dasarnya, pembaruan pemikiran (pemurnian) Islam dituntut untuk menghambat proses degenerasi umat dalam berbagai bidang dan untuk menutup atau setidak-tidaknya memperkecil kesenjangan antara “ideal Islam” dengan “historikal Islam” yaitu antara Islam dalam teori dan Islam dalam praktek. Degenerasi akidah yang mengarah kepada syirik adalah masalah yang memprihatinkan bagi para pemikir pembaruan Islam. Lapisan massa Islam yang sudah dikuasai oleh macam-macam bid’ah, khurafat dan takhyul, sudah pasti tidak dapat diharapkan menjadi umat  yang dinamis dan kreatif. Pada gilirannya, degenerasi akidah tersebut juga akan melahirkan degenerasi sosio-moral, sosio-politik dan dekadensi etnik.

Apabila kekuatan-kekuatan baru yang maha dahsyat di bidang sosial ekonomi, kultural-moral ataupun sosio-politik menimpa suatu masyarakat, maka nasib masyarakat tersebut sangat tergantung kepada sampai seberapa jauh ia sanggup menghadapi tantangan baru itu secara kreatif. Jika masyarakat tersebut dapat menghindari dua sikap yang ekstrem yaitu pertama, merasa panik dan mencari perlindungan hayati ke masa lampaunya dan kedua, mengorbankan atau mengkompromikan ideal-idealnya dengan keyakinan pada dirinya sendiri atau melakukan reaksi terhadap kekuatan–kekuatan baru dengan mengasimilasi, mengabsorsi, menolak, maka ia mengembangkan sebuah dimensi baru untuk aspirasi-aspirasi spritualnya.

Seandainya masyarakat itu karena terpaksa atau karena keadaan memilih sikap ekstrem yang kedua, ia tunduk kepada kekuatan-kekuatan baru tersebut, dan mengalami metamorfosis. Kehidupannya tidak lagi seperti dulu. Akan tetapi jauh lebih berbahaya jika ia mengambil sikap ekstrem yang pertama. Jika suatu masyarakat mulai hidup dimasa lampaunya, betapapun indahnya kenangan di masa lampau itu dan tidak dapat menghadapi realitas-realitas masa kini dengan keberanian maka ia berubah menjadi fosil. Hukum Allah menyebutkan bahwa fosil-fosil tidak dapat mempertahankan hidup mereka untuk waktu yang cukup lama. Allah berfirman QS. Hud (11) : 101

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ

Dan kami tidak melakukan aniaya kepada mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

Memasuki dan ikut serta dalam abad modern bukanlah persoalan pilihan, melainkan suatu keharusan sejarah. Kemoderenan dalam banyak hal merupakan pengembangan lebih lanjut dari nilai-nilai yang ada dalam tradisi Islam. Meskipun ada pandangan yang menyatakan bahwa itu merupakan nada apologetik, namun dalam pernyataan ini terdapat kebenaran mendasar yang tidak mungkin diabaikan. Ernest Gellner seorang ahli sosilogi agama dalam kajiannya menunjukkan bahwa tradisi agung Islam tetap dapat dimoderenkan (modernisable) tanpa perlu dapat memberi konsesi kepada pihak luar. Di antara berbagai agama yang ada kata Gellner, Islam adalah satu-satunya yang mampu tanpa banyak gangguan doktrinal untuk mempertahankan sistem keimanannya dalam abad modern ini.

Lebih jauh, Gellner manilai dalam Islam dan hanya dalam Islam pemurnian dan modernisasi di satu pihak dan penegakan kembali identitas umat di lain pihak dapat dilakukan dalam satu bahasa dan perangkat simbol-simbol yang sama. Dunia Islam memang gagal menerobos zaman dan mempelopori umat manusia memasuki abad modern, tetapi karena watak dasar Islam itu kaum muslimin mungkin akan menjadi kelompok umat Islam yang paling besar memperoleh manfaat dari kemoderenan dunia.

Dari sekian banyak karakter dan sifat agama Islam yang mendukung kaum muslimin memasuki dan mengetahui kehidupan modern ialah varian murni Islam selalu bersifat egaliterian dan bersemangat keilmuan (scholarly). Karena itu menurut Gellner berkenaan dengan sejarah Eropa (Barat), keadaan akan jauh lebih memuaskan seandainya orang-orang muslim dulu menang terhadap Cherlemegne dan berhasil mengislamkan seluruh Eropa.

Terdapat pemikiran yang lebih substansif lagi dibanding dengan pendekatan Ernest Gellner yaitu pemikiran kesejarahan Marshall Hodgson. Menurut Hodgson, abad teknik modern lahir karena terjadinya transmutasi hebat di Eropa Barat Laut. Transmutasi itu terjadi akibat adanya investasi inovatif di Eropa pada abad XVI, baik dibidang mental kemanusiaan maupun material. Di sini Hodgson melihat bahwa sesungguhnya sifat inovatif seperti itu, sekalipun dalam keadaan masih agak sporadis, sudah lama terdapat dalam masyarakat agraria berkota (agrarianate chitied society) di dunia Islam.

Penggarapan aspek kemanusiaan ini bagi manusia seharusnya tidak menimbulkan keganjilan baik doktrinal maupun psikologis, kalau saja mereka memahami secara lebih baik warisan kultural mereka sendiri. Karena modernisme mensyarakat perubahan yang terlembagakan, maka dengan sendirinya asumsi dasarnya ialah perubahan atau ketidaktepatan. Persoalan-persoalan yang timbul selalu diusahakan pemecahan dan penyelesaiannya, tetapi sekaligus disertai penegasan institusional bahwa suatu cara pemecahan dan penyelesaian tidak dapat dianggap final.

Berdasarkan kenyataan adanya nilai-nilai keislaman yang relevan dengan modernisme ini maka kiranya cukup beralasan untuk mengajukan harapan, seperti yang pernah diungkapkan oleh Muhammad Iqbal, bahwa umat Islam tidak saja menyertai abad modern, tetapi juga memberi sumbangan positif yang dapat menjadi tanda zaman untuk kemanusiaan abad mutakhir ini. Responsi dan partisipasi umat Islam untuk abad modern dapat bahkan harus bersifat “genius” agama Islam itu sendiri, dan tidak boleh merupakan konsesi ad hoc kepada desakan-desakan dari luar.

Salah satu hal yang paling tercecer oleh kemanusiaan modern ialah bidang keagamaan atau keruhanian. Umat Islam harus waspada untuk tidak mengalami keengganan untuk menggarap persoalan keruhanian ini. Maka jelas bahwa aspek pribadi adalah primer sedangkan aspek sosial, politik dan ekonomi lebih banyak merupakan pancaran keluarnya. Kepercayaan kepada adanya tanggung jawab yang mutlak bersifat pribadi kepada Allah pada hari kemudian, merupakan sumber tantangan hidup bermoral bagi manusia selama hidup di dunia.

Keprimeran aspek keagamaan pribadi terhadap kemasyarakatannya membuat tidak mungkinnya terwujud masyarakat Islam tanpa pribadi-pribadi yang muslim, tetapi masih dimungkinkannya terdapat pribadi-pribadi muslim hidup dalam suatu masyarakat non-muslim, sebagai perorangan atau bahkan kelompok minoritas kecil. Keprimeran aspek kesalehan pribadi juga menjadi kesadaran sebagian besar para pemikir Islam. Para pemikir dengan aspirasi reformatif atau pembaru yang kuat seperti Ibu Taimiyyah, Al-Afghani dan Muhammad Abduh dalam satu atau lain bentuk mempunyai orientasi dan pengalaman kesufian mereka sendiri.

Namun Muhammad Abduh, Al-Afghani dan para pemikir modernis Islam lainnya tidak lebih daripada orang-orang yang telah berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan prinsip yang mereka perjuangkan yaitu ijtihad atau pembaruan.

Salah satu implikasi dari doktrin bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul penghabisan ialah berhentinya wahyu Tuhan kepada manusia dengan otoritasnya yang mutlak. Untuk berfungsi dan memasyarakatkannya wahyu-wahyu perlu ditafsirkan melalui kegiatan ijtihad. Namun, tetap disadari adanya segi kemanusiaan dalam penafsiran melalui kegiatan ijtihad yang membuatnya tidak mungkin terbebas dari kemungkinan salah dan demi kepentingan manusia sendiri ijtihad itu harus tetap digalakkan. Dari sudut penghampiran inilah bisa dipahami sebuah hadis Nabi saw.

Barang siapa berijtihad dan benar ia akan mendapat dua pahala, dan barang siapa berijtihad dan salah, ia masih mendapat satu pahala.

Adalah kebijaksanaan kerasulan yang sangat tinggi bahwa Nabi menegaskan tidak adanya kerugian dalam kegiatan berijtihad dan ijtihad hanya akan membawa kebaikan ganda ataupun tunggal. Maka tidak ada yang salah dalam berijtihad. Kesalahan satu-satunya ialah adanya takut salah itu sendiri yang menjadikan manusia jadi statis dan tidak kreatif. Bias dari adanya rasa takut salah akan berdampak pada suburnya taklid.

Seharusnya, kita mempunyai kemantapan kepercayaan bahwa semua bentuk pikiran dan ide, betapapun aneh kedengarannya, haruslah mendapatkan jalan untuk dinyatakan. Tidak mustahil dari pikiran-pikiran dan ide-ide yang umumnya semula dianggap salah ternyata kemudian benar. Kenyataan ini merupakan pengalaman setiap gerakan pembaruan baik perorangan maupun organisasi dalam sejarah perjalanan manusia di bumi ini. Di dalam pertentangan pikiran dan ide, kesalahan sekalipun memberikan kegunaan yang tidak kecil, sebab ia akan mendorong untuk menyatakan dirinya dan tumbuh menjadi kuat.

Karena tiadanya pikiran-pikiran yang segar, kita telah kehilangan apa yang dinamakan psychological striking force (daya tonjok psikologis) untuk membuat ide-ide yang sejalan dengan kenyataan-kenyataan zaman sekarang. Sejalan dengan intelectual freedom, kita harus bersedia mendengarkan perkembangan ide-ide kemanusiaan dengan spektrum seluas mungkin, kemudian memilih mana yang menurut ukuran-ukuran objektif mengandung kebenaran. Sulit dimengerti, justru umat Islam lebih banyak bersifat tertutup, padahal kitab suci al-Qur’an menegaskan semangat inklusivisme.

Pembangunan masa depan bangsa kita secara sederhana dapat digambarkan sebagai masyarakat yang berubah dari pola-pola agraris ke pola-pola industrial. Secara universal, bentuk masa depan manusia ditentukan oleh penguasaan teknologi, pengembangan ekonomi, automation of production dan campur tangan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Hal seperti itu pasti berpengaruh pada pandangan hidup manusia, termasuk pada doktrin-doktrin yang disodorkan oleh masyarakat keagamaan.

Agama Islam bagi kita merupakan suatu keyakinan. Bagi bangsa Indonesia secara empiris, Islam merupakan agama yang mayoritas dianut oleh rakyat. Karena itu, sikap-sikap yang dikembangkan oleh agama Islam akan mempunyai pengaruh besar terhadap proses perubahan sosial. Peranan Islam akan diwujudkan dalam dua sikap, yaitu menopang atau merintangi, tergantung pada para pengikutnya. Guna menopang dan mengarahkan perubahan sosial tersebut, kita harus mampu melepaskan diri dari sikap-sikap yang tidak kondusif bagi kemajuan termasuk pembebasan diri dari nilai tradisional yang bersifat menghambat.

Agama Islam mengajarkan kepada manusia untuk hidup dengan baik di dunia dan mempersiapkan diri untuk kehidupan yang baik pula di akhirat. Dalam kenyataan terlihat bahwa keimanan dan kehidupan beragama kurang ditujukan kepada kehidupan di dunia. Akibatnya adalah kurang adanya dinamika untuk memperoleh kemajuan dalam kehidupan. Tidak ada niat yang kuat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan  dan teknologi serta kurangnya usaha untuk menciptakan kehidupan ekonomi yang kuat. Oleh karena itu banyak umat Islam hidup dalam ketergantungan dan kemiskinan.

  1. zaenu ar rafiqy
    18 pukul 11:29 am

    tolong di kasih buku referensinya di cantumkan>>>

  2. zaenu ar rafiqy
    18 pukul 11:30 am

    tolong buku referensinya di cantumkan>>>

    biar lebih afdhol dan dapat membantu teman2 yang membutuhkannya.

  3. salam abdul
    09 pukul 3:55 pm

    tulisannnya sangat bagus dan indah, tapi sayang ga ada footnotenya atau referensinya

  4. 04 pukul 3:59 pm

    Hi, Neat post. There’s a problem with your site in web explorer, could
    check this? IE nonetheless is the marketplace
    chief and a large element of other folks will leave
    out your fantastic writing because of this problem.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: