Beranda > Sejarah Islam, Studi Islam > Wacana Islam dan Negara

Wacana Islam dan Negara

Perbincangan mengenai hubungan agama dan negara dalam tradisi  pemikiran Islam sudah mengemuka sejak zaman klasik dan pertengahan, bahkan persoalan yang pertama kali muncul dan memicu konflik intlektual dalam kehidupan umat Islam adalah berkaitan dengan politik.

Spektrum Islam dalam persentuhannya dengan politik (negara), telah memberikan warna dinamika dalam wacana tentang bagaimana  memposisikan Islam dalam konteks sosial-politik atau dalam kehidupan bernegara. Hak prerogatif intlektual setiap individu dalam memahami konsep Islam tentang politik tersebut, telah memberikan sejumlah khazanah pengertian.

Realitas historis tersebut, menjadikan salah satu masalah yang dihadapi oleh negara-negara Islam pada masa-masa awal pembentukannya termasuk Indonesia. Hal ini karena Islam setidaknya meliputi dua aspek pokok yaitu agama dan masyarakat atau politik. Dengan kata lain, Islam tidak memisahkan persoalan-persoalan rohani dan persoalan-persoalan dunia, tetapi mencakup kedua aspek tersebut. Namun, dalam mengartikulasikan kedua aspek pokok tersebut, dalam kehidupan bermasyarakat terjadi perdebatan konsep yang alot.Beragamnya konsepsi kenegaraan dalam Islam tersebut, dilatari pemahaman bahwa karakteristik agama Islam memberikan seperangkat pedoman umum dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Hal ini berbeda dengan pengalaman Barat yang mengawali proses itu lewat revolusi industri pada abad ke-17 dan 18 di Eropa. Revolusi ini merambah kehidupan manusia dan mengakibatkan terjadinya revolusi sistem nilai. Lahirlah renaissance dan reformasi yang memarjinalkan peranan agama (gereja) dalam masyarakat. Di negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim, timbul pergumulan antara nilai-nilai sekuler dan nilai-nilai Islam, terutama dalam bidang sosial-politik seperti tampak di Turki, Aljazair, Mesir, dan Irak.

Hubungan politik antara Islam dan negara di Indonesia, pada sebagian babakan sejarahnya merupakan cerita antagonistis dan mengandung kecurigaan satu sama lain. Hubungan yang tidak harmonis ini terutama disebabkan oleh perbedaan pandangan para pendiri republik ini yang sebagian besar muslim –mengenai Indonesia yang dicita-citakan. Salah satu butir terpenting dalam perbedaan pendapat di atas adalah apakah negara bercorak islami atau nasionalis. Konstruk kenegaraan pertama mengharuskan agar Islam diakui dan diterima sebagai dasar ideologi negara. Sementara konstruk kenegaraan yang kedua, menghendaki agar Indonesia didasarkan atas pancasila, sebuah ideologi yang sudah di dekonfessionalisasi.

Perbedaan tersebut, yang kemudian menjadi polemik yang aktual di tahun 1940; dan  merefleksikan pertarungan ideologis antara dua golongan terkemuka di Indonesia, yaitu golongan nasionalis sekuler dan nasionalis Islami yang tak terwujudkan sekitar tahun 1920 sampai akhir penghujung tahun 1930. Gagasan-gagasan yang dipolemikkan di sekitar masalah apakah agama harus disatukan atau dipisahkan dari politik, masalah prinsip kenegaraan yang bagaimana yang harus dijadikan dasar negara dan sekularisasi politik dalam masyarakat berpenduduk mayoritas muslim. Masalah-masalah ini menjadi polemik dan perdebatan sengit antara golongan nasionalis sekuler dan nasionalis Islami, baik menjelang Indonesia merdeka (perumusan piagam Jakarta 1945), demokrasi parlementer (perdebatan di bawah konstituante 1957-1559) masa Orde Baru, maupun di era reformasi.

Di Indonesia dalam babakan sejarahnya, pencarian konsep tentang negara merdeka yang dicita-citakan merupakan salah satu wacana yang hangat. Pemikiran politik ini, sesungguhnya merefleksikan upaya mencari landasan intlektual bagi fungsi dan peranan negara sebagai instrumen untuk memenuhi kepentingan masyarakat. Di samping itu, juga untuk mencari landasan normatif tentang negara yang bersumber dari nilai-nilai universal keislaman.

Upaya pencarian di atas dalam diskursus pemikiran politik Islam, paling tidak, memiliki dua maksud. Pertama, untuk menemukan idealitas Islam tentang negara sehingga mampu diwujudkan dalam legalitas-formal. Kedua, untuk menemukan idealisasi dari perspektif Islam terhadap proses penyelenggaraan negara secara praktis dan subtansial. Asumsi ini, didasarkan pada anggapan bahwa Islam tidak membawa konsep khusus tentang negara, tetapi hanya menawarkan prinsip-prinsip dasar berupa etika dan moral, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Oleh karena itu, bentuk negara yang ada pada masyarakat muslim dapat diterima sejauh tidak menyimpang dari nilai-nilai dasar tersebut.

Dalam tradisi Sunni, yang pada umumnya dianut oleh umat Islam Indonesia – hubungan antara agama dan politik – pada dasarnya bersifat ambigous atau ambivalen. Dalam pemahaman ulama Sunni, (agama) Islam sebagai bagian integral yang tidak terpisah dari bahkan politik itu sendiri. Dengan berbagai alasan yang dikemukakan ditambah alasan politik tertentu, atau kepentingan berdakwah melalui politik, bahkan karena jaring-jaring politik yang sulit mereka hindari, umat Islam tercebur atau menceburkan diri ke dalam politik.

Akan tetapi,  pada bagian lain baik pada tingkat konseptual maupun praktis terdapat hubungan yang canggung antara agama dan politik. Oleh karena itu, dalam hubungan antara agama dan politik tidak jarang terjadi ketengangan, dan tarik ulur dalam suatu dialektika yang cukup kontinyu, dan bahkan cenderung permanen.

Aktualisasi wacana tentang konstruk kenegaraan di atas, tidak dapat dipisahkan hubungannya dengan kekuatan-kekuatan yang ada dalam masyarakatnya. Tidak semua negara yang berpenduduk mayoritas beragama Islam merealisasikan Islam secara seragam dalam berpolitik. Bahkan di antara negara-negara Islam sendiri menganut sistem pemerintahan yang berbeda-beda. Keadaan lokal, termasuk sistem sosial dan tradisi politik, lebih mewarnai corak politiknya. Bahkan tidak sedikit pula menentang percampuran agama dengan politik.

(Dari berbagai sumber)

  1. 30 pukul 10:54 pm

    Kunjungan balasan kami, silahkan kapan-kapan berkunjung kembali ke Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru serta artikel lain yang bermanfaat, dan jangan lupa komentarnya. Terima kasih.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: