Beranda > Sejarah Islam > Khalifah Fatimiyah

Khalifah Fatimiyah

Pendahuluan

Dalam lintas sejarah tercatat bahwa perjalan sejarah Islam terlahir melalui beberapa fase. Dalam sejarah disebutkan bahwa ada tiga fase perjalanan sejarah Islam, yaitu fase klasik, pertengahan dan fase modern. Dari ketiga fase ini, maka fase kedua (fase pertengahan) terjadi disintegrasi keutuhan umat Islam, terutama dalam bidang politik. Gejala ini nampak pada akhir kekuasaan Bani Umayyah dan puncaknya pada zaman Bani Abbasiyah. Daerah-daerah yang letaknya jauh dari pusat pemerintahan secara perlahan-lahan melepaskan diri dari kekuasaan khalifah pusat dan dan bermunculan pula dinasti-dinasti kecil, baik yang ada di Barat maupun di bagian Timur Bagdad. Salah satu pemicu munculnya dinasti-dinasti kecil adalah adanya rasa tidak puas dan enggan menerima kepemimpinan. Pihak-pihak yang selalu membuat gerakan itulah yang menjelma menjadi suatu kekuatan politik dalam Islam, salah satu di antaranya adalah Syi’ah.

Sejarah menggambarkan, dinasti Fatimiah beraliran Syi’ah Ismailiyah, golongan ini memandang bahwa sejak wafatnya Imam mereka yang ketujuh, Ismail bin Ja’far bin Sadiq, maka datang silih berganti imam yang bersembunyi bila dia merasa tidak kuat menentang lawan.

Setelah mereka lama dalam pengejaran dari dinasti yang berkuasa, yaitu masa Umayyah dan Abbasiyah, dengan perjuangan panjang yang melelahkan dan teramat berat bagi kaum Syi’ah akhirnya mereka dapat mendirikan suatu dinasti yang kuat, yakni dinasti Fatimiah, yang menisbahkan diri kepada nama putri Rasulullah saw., Fatimah az-Zahrah.

Dari sejumlah dinasti kecil pada masa daulah Abbasiyah, secara nominal masih mengakui kekhalifahan di Bagdad sebagai khalifah mereka. Berbeda dengan Dinasti Fatimiah di Mesir, mereka mengambil bentuk khalifah aliran Syi’ah dan menjadi saingan bagi khalifah aliran Sunni.

Pembentukan Daulah Fatimiah

Melalui sejarah diperoleh gambaran bahwa sejak awal, Syi’ah merupakan satu-satunya golongan dalam Islam yang selama berabad-abad lamanya mengembangkan doktrin imamahnya. Tuntutan untuk kepentingan keturunan Ali merupakan awal dari perjuangan politiknya.

Pada saat tampak pemerintahan dipegang oleh khalifah-khalifah Abbasiyah, kekejaman kaum Abbasiyah terhadap kaum Awaliyah tidak kalah dengan kekejaman yang dilakukan oleh kaum Amawiyah. Mereka dikejar dan diperlakukan seperti lawan politik yang harus dimusnahkan. Menghadapi hal ini, keluarga Ali tidak meninggalkan kepentingan mereka sendiri dan terus berjuang untuk kepentingan mereka tanpa henti dengan melakukan gerakan-gerakan bawah tanah.

Gerakan-gerakan rahasia kaum Syi’ah mencoba mengadakan kontak dengan berbagai kebudayaan, mengambil yang perlu dan memasukkan dalam agama apa yang mereka anggap layak untuk dimasukkan dalam ajaran agama. Mereka mampu mengumpulkan sejumlah ajaran dan pendapat yang menjadi landasan kepartaian dan kesektean serta mampu menembus kelemahan Daulah Abbasiyah hingga mereka bisa memerintah. Mereka mendirikan negara-negara, baik di Timur maupun di Barat dan sebagai puncaknya adalah Daulah Fatimiah.

Mengenai cikal bakal munculnya Daulah Fatimiah, para ahli sejarah berbeda pendapat tentang kebenaran asal-usul keluarga itu bila dikaitkan dengan Fatimah binti Muhammad. Bila Fatimah dengan pengertian cucu Ubaidillah al-Mahdi, maka dengan sendirinya orang dapat menyatakan bahwa beliau adalah keturunan Fatimah binti Muhammad, dan juga turunan Ali bin Abi Thalib.

Hasan Ibrahim Hassan menyatakan bahwa ada dua pendapat mengenai munculnya Fatimah, yaitu 1) Turunan Ubaidillah al-Mahdi berasal dari Ismail bin Ja’far, 2) Turunan Ubaidillah yang berasal dari Ma’mun al-Qadah atau dari Musa al-Hadhim dan mengingkari nasab Ismail bin Ja’far.

Daulah Fatimiah menganut Mazhab Syi’ah hingga keturunannya sebelum masa Salahuddin, sebagai yang dikatakan De Lacy O’leary membagi dinasti atas tiga periode; 1) Bangkitnya penganut Ismailiyah sebagai suatu dinasti yang mengklaim sebagai dinasti (keturunan) Fatimiah di Qairawan, 2) penakluk Mesir dan periode yang menunjukkan kemakmuran serta sistem pemerintahan di Mesir dan Syiria, 3) periode kritis akibat serangan Saljuk-Turki dan perang Salib hingga sampai pada saat keruntuhannya.

Sementara De Goije mengatakan, bahwa Abdullah bin Maimun yang menyebarkan mazhab Syi’ah Bathiniayh, dengan alasan bahwa sejak kecil ia telah menyebarkan pahamnya kemudian ia menjadi keluarga yang besar dan menaklukkan seluruh kekhalifahan di Barat, lebih lanjut ia menyatakan bahwa ketika membicarakan Qaramithah adalah merupakan satu kelompok.

Sedangkan Weterfild, ia tidak dapat menetapkan secara pasti tentang nasabnya, karena informasi tentang Fatimiah berasal dari orang-orang Arab yang saling bertentangan. Namun ia lebih cenderung mengaitkan nasab Fatimah dari Imam al-Mumtazam, sebab lebih mendekati pada kebenaran walaupun kehujjahannya tidak kuat yakni tidak ada pengakuan dari orang-orang Syi’ah.

Walaupun Philip K. Hitti tampaknya lebih cenderung mengaitkan nasab Fatimah berasal dari Ma’mun al-Qatada dengan menyatakan bahwa pendiri khalifah adalah Said bin Husain, pendiri kedua sekte Ismailiyah.

Kenyataan sejarah membuktikan bahwa selama masa pemerintahan Bani Umayyah telah timbul berbagai gerakan-gerakan politik dan agama di wilayah Islam, terutama gerakan Syi’ah bersama Bani Abbas menggabungkan diri di bawah semboyan “menegakkan kembali kekuasaan Bani Hasyim” dan berhasil menggulingkan Dinasti Umayyah di Damsyik yang berkuasa selama 91 tahun.

Ketika kedua kelompok itu berhasil meraih kemenangan, ternyata Bani Abbasiyah berkhianat kepada kelompok Syi’ah. Bani Abbasiyah menguasai sepenuhnya kekuasaan politik pemerintahan. Abbasiyah tampil sebagai penguasa sedang Syi’ah menempatkan diri sebagai oposisi.

Diakhir masa kekuasaan Bani Abbasiyah telah mengalami pasang surut dalam menjalankan roda pemerintahan di samping kuatnya tekanan politik intern pemerintah (istana) juga banyaknya dinasti-dinasti kecil dapat merongrong kewibawaan pemerintah.

Dalam situasi seperti inilah Dinasti Bani Umayyah di Afrika Utara, yang awalnya di Tunisia, kemudian pindah ke Mesir. Khalifah pertama yang diangkat menjadi Khalifah Dinasti Fatimiah adalah Ubaidillah al-Mahdi, dibaiat oleh penduduk Qairawan pada ahun 296 H. di Sililmasan dan sejak itu pula nama al-Mahdi disebutkan dalam setiap khutbah Jumat dengan gelar Amir al-Mu’minin.

Al-Mahdi setelah diangkat jadi khalifah, ia segera membentuk dan mendirikan lembaga-lembaga pemerintahan, mengangkat bendahara untuk menghimpun dana demi memperkokoh pemerintahannya. Juga mengutus tentaranya untuk memperluas wilayah kekuasaannya, sehingga berhasil menguasai Balkan dan Iskandariah.

Melihat gerakan Syi’ah dengan gencar memperluas wilayah ke Mesir, khalifah al-Muktadir dari Dinasti Abbasiyah tidak tinggal diam. Ia mengadakan penyerangan dan berhasil memukul mundur tentara al-Mahdi. Peperangan bergejolak antara al-Muktadir dengan tentara Fatimiah, barulah serbuan ketiga tentara Fatimiah berhasil memukul mundur tentara al-Muktadir dengan memaksanya mengadakan perjanjian.

Daulah Fatimiah didirikan oleh al-Mahdi dengan pusat pemerintahan di Qairawan kemudian dipindahkan ke Mesir. Di Mesir inilah mereka mendirikan kota baru yang bernama Qahirah yang berarti berjaya, atas prakarsa panglima perang Jauhar al-Saqali dimana Fatimiah memakai gelar khalifah sebagai tandingan terhadap Abbasiyah di Bagdad.

Berdasarkan pemaparan tersebut di atas dapat dipahami bahwa Daulah Fatimiah berasal dari golongan Syi’ah yang beroposisi terhadap pemerintahan Bani Abbasiyah dan membentuk barisan baru dari kawasan Afrika Utara di bawah pimpinan Ubaidillah al-Mahdi yang mengadakan ekspansi hingga menguasai Mesir dan wilayah-wilayah lainnya.

Kemajuan Daulah Fatimiah

Kemajuan yang dicapai oleh Dinasti Fatimiah meliputi banyak bidang, di antaranya dapat dilihat dari politik dan ilmu pengetahuan.

1.   Bidang politik

Kemajuan yang diraih oleh Daulah Fatimiah dalam bidang politik dapat dilihat dari kebijakan-kebijakan yang bersifat politis yang dikeluarkan oleh khalifah pada saat itu di antaranya:

  • Perluasan daerah. Pada masa pemerintahan Mu’iz (953-975 M) terdapat seorang jenderal bernama Jauhar bersama bala tentaranya berhasil menaklukkan Afrika Utara serta melakukan serangan ke Pusthat dan berhasil menguasainya dan nama Abbasiyah dihapus dari do’a ibadah Jum’at.
  • Mewujudkan sikap toleransi dalam beragama dan bermasyarakat. Seperti memberi kelonggaran kepada penganut Sunni untuk beribadah berdasarkan keyakinannya. Bahkan memberikan jabatan tertentu kepada orang non muslim, misalnya di bidang militer dan sebagainya.
  • Perpindahan pusat pemerintahan dari Qairawan (Tunisia) ke Kairo (Mesir) merupakan langkah yang amat strategis. Mesir dijadikan sebagai pusat koordinasi dengan berbagai negara yang tunduk kepadanya, karena lebih dekat dengan dunia Islam bagian timur, sedangkan Qairawan jauh di sebelah utara Benua Afrika.
  • Kebijakan lain yang ditempuh dalam menentramkan kondisi wilayahnya adalah membagi kementerian negara pada dua bagian: Pertama, orang-orang yang ahli pedang menduduki urusan militer dan keamanan istana kementerian serta pengawal pribadi khalifah. Kedua, orang-orang ahli pena menduduki beberapa jabatan, diantara hakim, pejabat urusan pendidikan, keuangan dan sebagainya.
  • Para pejabat dan kaeyawan pemerintahan diberi gaji dan mendapat tunjangan hari raya. Dengan gaji yang cukup, para pegawai dapat hidup layak dan menunaikan kewajibannya sebaik-baiknya.

2.   Bidang ilmu pengetahuan

Sebagaimana dikemukakan Ahmad Syalabi bahwa pada masa pemerintahan al-Mu’iz, Kairo telah menjadi pusat ilmu pengetahuan dan informasi bagi dunia Islam. Sesungguhnya khalifah al-Mu’iz sangat mencintai ilmu pengetahuan, namun semangat di bidang ilmu pengetahuan itu hanya difokuskan pada kegiatan-kegiatan dakwah untuk memperoleh ajaran-ajaran Syi’ah. Kegiatan-kegiatan ini diikuti pula para ulama dan sastrawan, akibatnya hanya berfokus pada satu bidang saja hingga dapat menghambat perkembangan ilmu.

Selanjutnya pengembangan Syi’ah mewujudkan berdirinya Masjid al-Azhar yang difungsikan sebagai tempat pendidikan formal, tempat kuliah dimana para ulama mengajar tafsir, hadis, bahasa dan sastra Arab. Kemudian pada gilirannya masjid al-Azhar menjadi universitas pada masa khalifah al-Azis. Pada masa ini juga didirikkan perpustakaan istana yang dilengkapi dengan berbagai macam buku. Sejumlah sekolah dan perguruan tinggi, perpustakaan umum dan lembaga ilmu pengetahuannya lainnya didirikkan pada saat itu. Dar al-Hikmah misalnya merupakan prakarsa terbesar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, meskipun pada mulanya lembaga tersebut ditujukan sebagai sarana penyebaran dan pengembangan ajaran Syi’ah Ismailiyah.

Kemunduran Daulah Fatimiah

Setelah khalifah Fatimiah mengalami kejayaan hingga paruh masa pemerintahan al-Muntasir (1094 M) di Mesir, maka pada periode ini dan selanjutnya mulailah terjadi kemerosotan di kalagan istana.

Kekuasaan khalifah Fatimiah di Mesir mulai mengalami kemunduran ketika Bani Saljuk bersama pasukannya datang ke Bagdad dan mengusir keluarga Buwaihi, khalifah Fatimiah tidak dapat memberikan pertolongan. Kemunduran tersebut membawanya ke gerbang kehancuran.

Penyebab kemunduran atau kehancuran Daulah Fatimiah disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

1.   Faktor internal

  • Adanya upaya perluasan wilayah kekuasaan ke wilayah bagian Timur, sementara perbaikan di Afrika Utara terabaikan.
  • Sikap berlebihan khalifah dalam menganut paham Syi’ah Ismailiyah yang berakibat lunturnya toleransi terhadap berbagai aliran serta yang beragama non muslim. Tindakan eksekusi terhadap seorang wazirnya tanpa alasan yang sah dan meyakinkan, penghancuran sejumlah bangunan gereja dan sebagainya.
  • Adanya sikap toleransi yang berlebihan yang dikembangkan oleh para khalifah terhadap berbagai unsur golongan masyarakat untuk terlibat dalam pemerintahan dan kesatuan-kesatuan militer tidak berhasil meredam gejolak terhadap penguasa, bahkan mengantarkan lahirnya berbagai pertentangan.

2.   Faktor eksternal

  • Adanya penyerbuan yang dilakukan oleh tentara Salib ke wilayah Fatimiah, seperti di Syiria dengan mengerahkan bala tentaranya sebanyak 20.000 orang. Serangan tentara Salib tersebut sangat berdampak negatif terhadap pemerintahan Fatimiah, yakni tidak kompaknya pada wazir dalam upaya menghadapi serangan tentara Salib.
  • Banyaknya wilayah-wilayah yang melepaskan diri dan bergabung dengan Abbasiyah di Bagdad yang telah dikendalikan oleh Dinasti Saljuk untuk menyerang balik kekuatan Fatimiah.

Pada masa pemerintahan khalifah al-Asid (1160-1171 M) Dinasti Fatimiah mengalami banyak kemunduran yang sangat parah. Tantangan datang silih berganti, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Akhirnya Dinati Fatimiah berada dalam kondisi kritis. Disamping hal tersebut di atas, dapat pula dikatakan bahwa pergantian dan dominasi para menteri terhadap Daulah Fatimiah tersebut, perkembangan dalam negeri jauh dari kestabilan akibat persaingan dan perebutan kekuasaan yang berjalan terus menerus sejak tahun kedua masa pemerintahan al-Muntasir hingga akhirnya menteri Salahuddin Yusuf bin Ayyub berhasil mengendalikan stabilitas keamanan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam negeri Mesir.

Kesimpulan

  1. Daulah Fatimiah yang beraliran Syi’ah Ismailiyah, berdiri sejak tahun 297-909 H/567-1171 M. Bermula di Afrika utara lalu mengembagkan wilayahnya ke Mesir (pusat pemerintahannya) yang didirikkan oleh Ubaidillah al-Mahdi.
  1. Kemajuan yang diraih dalam bidang politik dia antaranya adalah perluasan daerah, mewujudkan sikap toleransi dalam beragama dan bermasyarakat. Sedang di bidang ilmu pengetahuan adalah berdirinya Universitas al-Azhar sebagai tempat pendidikan formal dan perpustakaan Dar al-Hikmah
  1. Kekuasaan khalifah Fatimiah di Mesir mulai mengalami kemunduran ketika Bani Saljuk bersama pasukannya datang ke Bagdad dan mengusir keluarga Buwaihi, khalifah Fatimiah tidak dapat memberikan pertolongan, lalu membawanya ke gerbang kehancuran.

Referensi

Gufran Ma’adi  Sejarah Islam dari Awal Hingga Runtuhnya Dinasti Usmani, Cetakan I; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1997.

Hitti, Philip K., History of Arabs, London: Mac Millan Press Ltd, 1974.

Ibrahim Hassan, Hasan, Al-Daulah Al-Fatimiyah fi Al-Magrib wa Misr wa Suriyah wa Bilad al-Arabi, Cairo: Lajnah al-Ta’lif wa al-Tarjamah wa al-Nasr, 1958.

Harun Nasution,  Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid I. Cetakan V; Jakarta: UI Press, 1985.

Munawir Sjadzali,  Islam dan Tata Negara: Ajaran Sejarah dan Pemikiran, Cetakan V; Jakarta: UI-Press, 1993.

Jamaluddin Surur,  Daulah Fatimiah fi Misr, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, 1979

A. Syalabi,  Mausu’ah Tarikh al-Islam wa al-Hadarah al-Islam, Juz III. Cetakan VI; Cairo: al-Nahdah al-Misriyah, 1978.

Thaba’ Thaba’i,  Sekte Islam; Asal-Usul dan perkembangannya, Cetakan I; Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1989.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: