Beranda > Studi Islam > Kutbah Jumat

Kutbah Jumat

Sebagai seorang khatib sebelum melaksanakan khutbah, hendaknya memiliki persiapan-persiapan yang matang sehingga dalam melaksanakan pekerjaan yang mulia ini dapat berjalan dengan baik. Berikut akan kami uraikan hal-hal yang disarankan untuk dipersiapkan.

Jiwa dalam keadaan tenang, tidak gelisah serta tidak dalam keadaan emosi. Senantiasa meluruskan niat dan keikhlasan bahwa khutbah bagian dari dakwah dan jihad di jalan Allah, serta ibadah meraih ridha-Nya. Merasakan dan memahami bahwa tidak akan diterima khutbahnya kecuali ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Membiasakan diri dengan tilawah al-qur’an secara baik, wirid dan zikir untuk menentramkan hati. Membaca do’a pembuka hati dan pemancar perkataan.

Fisik harus benar-benar sehat, yaitu dengan tetap senantiasa menjaga kebersihan, kesucian, kesehatan, istirahat dan menyeimbangkannya dengan aktivitas. Ingat bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman dan mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, demikian pesan Rasulullah. Suaranya jelas, tidak terbatuk-batuk, tidak tersendat-sendat, tidak terpotong-potong atau tidak juga sengau. Biasakanlah mandi, wudhu, menggosok gigi terutama saat hendak ibadah kepada Allah. Sekaligus ini merupakan ittiba’ (mencontoh sunnah rasulullah). Jaga kebersihan dan kerapian pakaian, penampilan, potongan rambut, kecerahan wajah dan lain-lain. Pakailah pakaian yang sopan, baik, indah bila perlu gunakan wangi-wangian. Kalau memungkinkan dan suasana mendukung, pakailah jas. Jaga penampilan, performance. Jangan mempermainkan kancing, memasukkan tangan ke saku, dan hal-hal lain yang mengundang perhatian negetif hadirin.

Materi yang disampaikan memiliki tanggungjawab moral yang tinggi kepada Allah dan kepada sesama manusia. Maka seorang khatib tetap senantiasa sadar dan introppeksi diri dengan materi yang disampaikan, yaitu menyesuaikan hati, perkataan dan perbuatan. Karena diri da’i akan menjadi figur (sentral) dan percontohan di tengah umatnya. Hal ini sangat penting agar dakwah sampai kepada masyarakat dengan bukan sekedar transfer materi tetapi transfer nilai sehingga akan lebih memberikan kesan yang mendalam. Mengingatkan selalu kepada diri dan hadirin untuk meningkatkan keimanan, ketaqwaan dan ketaatan secara sungguh-sungguh dan menempuh upaya serius dalam meraihnya. Bila akhlak dan kepribadian khatib sudah mantap dan terbina dengan ruh keimanan dan keislaman, akan mengokohkan khatib dalam melangkah serta memudahkan pendengar menerima nasihatnya, kemudian mengikuti jejaknya dalam berislam.

Demikian juga yang sangat penting untuk dipersiapkan adalah yang berkaitan dengan penguasaan khatib terhadap materi yang disampaikannya kepada masyarakat  yang dihadapi. Seorang khatib harus mampu membaca situasi dan kondisi pendengar pada saat itu dan tren yang sedang berkembang di masyarakat. Membaca kemampuan pendengar dari segi pendidikan, status sosial, pekerjaan, kebiasaan, usia, lingkungan yang membentuk, dan norma kesopanan yang mereka anut, yang positif tentunya. Berupaya untuk selalu menghidupkan norma-norma, adat, kebiasaan positif yang ada di masyarakat.

Penting bagi da’i untuk banyak membaca, baik berikatan dengan pokok-pokok agama seperti aqidah, akhlak, muamalah, ibadah, pemikiran islami, wawasan al-Qur’an. Al-Hadis, bahasa Arab maupun perkembangan dunia Islam modern dan dari waktu ke waktu. Banyak mengumpulkan data tentang perkembangan sosiokultural masyarakat, baik menyangkut akhlak-moralitas, gaya hidup, nilai-nilai yang mempengaruhi dan membentuk, serta mampu memberikan analisa “minimal” terhadap problem umat, dengan memberikan solusi secara islami dan dalam bingkai Islam. Tidak muluk-muluk dan tidak menggunakan bahasa yang aneh-aneh (sok modern) yang justru akan menimbulkan kebingungan dan fitnah di tengah masyarakat. Gunakan intonasi bahasa yang tepat, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, serta kemaslah dengan retorika yang menarik untuk disimak. Pulas materi-materi yang disampaikan dengan kisah-kisah menarik para sahabat, karena selain akan lebih berkesan, juga akan menghidupkan suasana dalam keakraban. Bila perlu diselingi juga dengan humor-humor segar yang terjangkau oleh pendengar, memiliki ibrah, hikmah dan keteladanan. Dalam khutbah jumat jangan menyampaikan khutbah yang mengundang tawa (lawakan, lelucon). Hal ini agar tidak mengganggu tertunaikannya khutbah Jum’at secara sempurna.

Bila dalam berceramah umum justru sebaiknya menggunakan bahasa-bahasa yang tepat, menyasar dan komunikastif disertai dengan humor yang segar, namun tetap dalam kebenaran. Selain itu tetaplah diperhatikan agar humor yang dilontarkan tidak sampai menjatuhkan wibawa (kharisma) pembicara.

Gunakan uraian yang tepat dan sistematis, maski hanya sederhana. Hidupkan logika dan kesertaan mereka untuk berfikir ringan. Dan upayakan materi yang disampaikan akan membentuk frame (kerangka) berfikir secara islami. Karena bilah fikrahnya mengkristal akan mempengaruhi tindakan dan perbuatan.

Memilih materi khutbah yang pas

  • Carilah judul khutbah/materi khutbah yang sesuai dengan keadaan jamaah yang hadir
  • Bila khutbah tersebut merupakan jatah rutin, usahakan masing-masing khatib ada konsolidasi dan koordinasi materi, agar tidak terjadi overlaping dan pengembosan. Karena betapa banyak khutbah yang disampaikan tetapi tidak mengarah kepada taqwinul ummah (pembentukan ummat) tetapi saling mengaburkan pemahaman antara satu dengan yang lain.
  • Sedapat mungkin pembicara dapat menyampaikan materi yang dapat mengantarkan pendengar pada peningkatan kualitas kepribadian, bukan hanya sekedar pandai melawak. Ini berarti sang da’i atau muballigh itu sendiri juga telah terbentuk kepribadiannya menjadi muslim berkualitas, anak istrinya menegakkan syariat Islam di rumahnya seperti menutup aurat, menjaga hijab, berakhlak baik terhadap keluarga dan lingkungan dan sebagainya.
  • Biasakan membaca dan memahami materi secara teliti, menghafalkan secara lancar, memberikan stressing (penekanan) pada poin-poin tertentu dengan permainan intonasi. Dan optimalisasikan bahwa da’i telah berinteraksi dengan materi disampaikan dalam kehidupannya sehari-hari.
  • Yang penting diperhatikan adalah penjadwalan pembicara dan materi, yang ini harus dipegang teguh oleh masing-masing pembicara sehingga dalam satu bulan, misalnya, Pendengar dapat memperoleh pemahaman yang baik, mulai dari aqidah, ibadah, akhlaq dan wawasan Islam. Bila dihitung dalam satu tahun berarti masing-masing materi telah tersistematis selama dua belas kali penyampaian. Inilah harapan terbentuknya umat yang lebih berkualitas.
  • Jangan sering dibiasakan untuk menjadi atau mencari khatib secara “dadakan”, karena hal ini kurang baik bagi semua pihak. Bagi pendengar akan merasa kurang puas, sementara bagi da’i berarti akan menjatuhkan kredibilitasnya dan bagi takmir ini akan mengurangi kepercayaan umat yang telah dilimpahkan kepada mereka. Ada terkesan bahwa khatibnya hanya sekedar melaksanakan rutinitas, yang penting terlaksana dalam jangka pendek, sedangkan program jangka panjang terbentuknya khairu ummah, seakan-akan tidak menjadi perhatian serius.

Siap berkhutbah

  • Menuju mimbar dengan tengang dan tidak tergesa-gesa, berdiri dengan tegap, tidak membungkuk, berwibawa, memandang ke seluruh jamaah, mengucapkan salam dengan mantap dan tenang.
  • Bila ada pengeras suara, jangan telalu dengan dengan microfon juga jangan terlalu jauh.
  • Memandang ke segala arah, bukan hanya pada satu arah saja.
  • Jangan mempermainkan tangan, saku, kancing baju agar tidak menarik perhatian pendengar.
  • Mengucapkan kata demi kata dengan tenang, mantap, jelas. Membentuk kalimat dengan intonasi (penekanan yang jelas). Jangan gugup, terlalu cepat juga terlalu lambat, yang membuat pendengar menunggu-nunggu.
  • Gunakan pilihan kata yang tepat.
  • Atur sauara antara mengombak, mengalun, keras-lemah, naik turun sesuai dengan maksud dan isi yang disampaikan.

Rukun Khutbah

Rukun khutbah yang dimaksud adalah susunan khutbah yang sempurna sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw.

  1. Tahmid dan hamdalah, yaitu puji-pujian mengagungkan asma Allah.
  2. Tasyahud atau syahadat, yaitu membaca dua kalimat syahadat.
  3. Shalawat, yaitu mengucapkan do’a keselamatan dan kesejahteraan kepada Rasulullah saw, para keluarga, sahabat dan umat Islam.
  4. Wasiat taqwa, yaitu memberikan wasiat taqwa kepada Allah bagi diri maupun seluruh jamaah.
  5. Membawakan materi khutbah, pilih topik yang sesuai.
  6. Membaca ayat al-Qur’an, pada salah satu antara dua khutbah atau pada khutbah kedua.
  7. Membaca do’a permohonan keselamatan, mohon keampunan bagi kaum muslimin-muslimat, biasanya pada khutbah kedua.
  1. 24 pukul 3:55 pm

    bagus pembhasannya mengenai khotib. thanks

  2. 26 pukul 10:28 am

    Hi there! This post could not be written any better!
    Reading this post reminds me of my good old room mate! He always kept chatting about this.
    I will forward this post to him. Fairly certain he will have a good
    read. Thanks for sharing!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: