Beranda > Studi Islam > Memahami Takdir

Memahami Takdir

“Takdir” adalah sebuah kata yang selalu menjadi bahan perdebatan bukan hanya kalangan umat Islam tapi juga perdebatan dan pertanyaan agama lain. Apakah manusia sejak lahirnya sudah ditentukan takdirnya oleh Allah swt. Untuk mengetahui sedikit tentang makna takdir tulisan ini memaparkannya yang dikutip dari Buku Prof. DR. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Qur’an.

Kata takdir (taqdir) terambil dari kata qaddara yang berasal dari akar kata qadara yang antara lain berarti mengukur, member kadar atau ukuran, sehingga jika anda berkata “Allah telah menakdirkan demikian, maka itu berarti “Allah telah member kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan maksimal makhluk-Nya”.

Dari sekian banya ayat al-Qur’an dipahami bahwa semua makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh Allah. Mereka tidak dapat melampau batas ketetapan itu, dan Allah swt menuntun dan menunjukkan mereka arah yang seharusnya mereka tuju. Hal ini dapat dilihat pada firman Allah swt sebagai berikut:

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan (semua makhluk) dan menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkan(nya).” (QS. Al-A’la (87): 1-3)

“Dan matahari beredar di tempat peredarannya. Demikian itulah takdir yang ditentukan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui” (QS. Yasin (36): 38)

“Dan telah Kami takdirkan/tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua” (QS. Yasin (36): 39)

“Dialah Allah yang menciptakan sesuatu, lalu Dia menetapkan atasnya qadar (ketetapan) dengan sempurna-sempurnanya” (QS. Al-Furqan (25): 2.)

Segala peristiwa yang terjadi di alam raya ini, dari sisi kejadiannya, dalam kadar atau kuran tertentu, pada tempat dan waktu tertentu, dan itulah yang disebut takdir. Tidak sesuatu yang terjadi tanpa takdir termasuk manusia. Peristiwa-peristiwa tersebut berada dalam pengetahuan dan ketentuan, yang keduanya menurut sementara ulama dapat dalam istilah sunnatullah. Walaupun Quraish Shihab cenderung tidak mempersamakan sunnatullah dengan takdir. Menurutnya sunnatullah yang digunakan oleh al-Qur’an adalah untuk hukum-hukum Tuhan yang pasti berlaku bagi masyarakat, sedang takdir mencakup hukum-hukum kemasayarakatan dan hukum-hukum alam. Dalam al-Qur’an “sunnatullah” terulang sebanyak delapan kali, “sunnatina” sekali, “sunnatul awwalin” terulang tiga kali, kesemuanya mengacu kepada hukum-hukum Tuhan yang berlaku pada masyarakat. Matahari, bulan dan seluruh jagat raya telah diciptakan oleh Allah takdirnya yang tidak bias mereka tawar.

“Datanglah (hai langit dan bumi) menurut perintah-Ku, suka atau tidak suka!” Keudanya berkata, “Kami datang dengan penuh ketaatan”

Bagaimana dengan manusia?

Manusia mempunyai kemampuan terbatas sesuai dengan ukuran yang diberikan oleh Allah kepadanya. Manusia misalnya, tidak dapat terbang, ini merupakan salah satu ukuran atau batas kemampuan yang dianugrahkan Allah kepadanya. Ia tidak mampu melampauinya, kecuali jika ia menggunakan akalnya untuk menciptakan suatu alat, namun akalnya pun mempunyai ukuran yang tidak mampu ia lampaui. Di sisi lain manusia berada di bawah hukum-hukum Allah sehingga segala yang kita lakukan pun tidak terlepas dari hukum-hukum yang telah mempunyai kadar danukuran tertentu. Hanya saja hokum-hukum tersebut cukup banyak, dan kita diberi kemampuan memilih, yang berbeda dengan matahari dan bulan. Manusia dapat memilih yang mana diantara takdir yang ditetapkan Tuhan terhadap alam yang kita pilih. Api ditetapkan Tuhan panas dan membakar, angin dapat menimbulkan kesejukan atau dingin, itu takdir Tuhan, manusia boleh memilih api yang membakar atau angin yang sejuk.

Ketika Umar ibn al-Khattab berada di Syam dan bermaksud berkunjung ke Syiria dan Palestina, namun terjadi wabah penyakit, Umar membatalkan kunjungan tersebut. Ketika itu seseorang bertanya: “Apakah anda lari/menghindar dari Takdir Tuhan” lalu umar menjawab “Saya lari/menghindar dari Takdir Tuhan kepada takdir-Nya yang lain”.

Demikian juga ketika Imam Ali r.a. sedang duduk bersandar di satu dinding yang ternyata rapuh, beliau pindah ke tempat lain. Beberapa orang di sekelilingnya bertanya seperti pertanyaan di atas, jawaban Ali bin Abi Thalib intinya sama dengan jawaban khalifah Umar bin Khattab. Rubuhnya tembok, berjangkitnya penyakit adalah berdasarkan hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah, dan bila seseorang tidak menghindar ia akan menerima akibatnya. Akibat yang menimpanya itu juga adalah takdir, tetapi bila ia menghindar dan luput dari marabahaya maka itu pun takdir. Bukankah Tuhan telah menganugrahkan manusia kemampuan memilah dan memilih? Kemampuan itu pun antara lain merupakan ketetapan atau takdir yang dianugrahkan-Nya. Dengan demikian, manusia tidak dapt luput dari takdir, yang baik ataupun buruk. Tidak bijaksana jika hanya yang merugikan saja yang disebut takdir, karena yang positif pun adalah takdir. Dengan demikian menjadi jelaslah bahwa adanya takdir tidak menghalangi manusia untuk berusaha menentukan masa depannya sendiri sambil memohon petunjuk dan bantuan dari Allah swt.

About these ads
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: